Karya Siswa
Trend Memiskinkan Diri Sendiri: Maraknya Impulsive Buying di Kalangan Gen Z
Oleh: Raissa Nisfi Natania
Sudah tak asing bahwa media sosial dijadikan “senjata utama” sebagai alat jual beli di era digital saat ini. Sebagai satu-satunya generasi yang tumbuh dikelilingi oleh transformasi digital, konsumen Gen Z lebih terbuka terhadap perubahan dan banyak menerima informasi di media sosial. Gen Z biasa dikenal juga sebagai generasi zoomer, yang lahir pada tahun 1997-2012 yang artinya pada tahun 2025 mereka berusia sekitar 13-28 tahun.
Gen Z menyukai cara pemasaran yang asyik, lucu, aesthetic dan brand yang membangun image “kekinian” untuk menarik perhatian. Gen Z yang tidak terlalu suka dengan brand yang masih mempromosikan produknya dan mempunyai packaging yang terbilang jadul atau ketinggalan zaman.
Disamping sejuta manfaat media sosial dan e-commerce yang memberikan kemudahan bagi para pengguna dalam memenuhi kebutuhannya, tidak dapat dipungkiri hal ini menjadikan penggunanya mudah tergiur dengan diskon-diskon yang mereka anggap cukup di kantong mereka. Perilaku mudah tergiur dalam berbelanja tanpa memikirkan konsekuensi yang diterimanya dikenal dengan perilaku impulsive buying. Impulsive buying merupakan kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian secara spontan, tidak terefleksi, dan terburu-buru.
Salah satu faktor yang memperkuat Impulsive buying di kalangan Gen Z adalah pengaruh media sosial yang memunculkan Fenomena Fear of Missing Out (FOMO). FOMO menciptakan perasaan tidak ingin tertinggal tren, sehingga muncul rasa urgensi untuk membeli barang-barang yang sedang tren itu tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan atau tanpa memikirkan apakah mereka mampu membelinya atau tidak. Promo dan diskon besar-besaran seperti tanggal kembar atau flash sale yang ditawarkan oleh platform e-commerce juga berkontribusi pada perilaku impulsive buying ini. Pengaruh selebgram, influencer, dan iklan yang secara terus-menerus muncul di fyp (for your page) membuat Gen Z merasa harus segera memiliki barang-barang tertentu untuk tetap dianggap relevan.
Sosial media seperti Instagram dan TikTok menjadi platform utama bagi banyak anak muda untuk mengikuti tren gaya hidup dan mode terbaru. Influencer dapat diandalkan untuk memberikan “racun” kepada konsumen. Gen Z menjadikan influencer yang sedang tren saat itu sebagai role model mereka sehingga barang-barang atau kosmetik yang terakhir digunakan oleh mereka pantas untuk diikuti. Melalui konten foto atau video yang mereka ciptakan mampu mengundang banyak konsumen untuk mengikuti apa yang dipakai para influencer tersebut. Menggunakan strategi influencer marketing ini memberikan dampak yang besar terhadap minat beli konsumen karena mendapatkan pengaruh kepercayaan dari pengikut atau audience influencer tersebut (Wardah, 2023).
Fenomena impulsive buying digadang-gadang akan menghancurkan masa depan Gen Z. Karena dengan adanya impulsive buying yang dibarengi dengan FOMO, Gen Z tidak akan punya tabungan untuk membeli aset yang tergolong “mahal” dan harus dicicil seperti rumah dan mobil. Dibanding untuk menabung membeli aset, Gen Z lebih tertarik menghabiskan tabungan nya untuk “self reward” karena Gen Z merasa dirinya sudah bekerja sangat keras, jadi untuk merayakan usahanya, mereka membelanjakan tabungannya setelah menuntaskan pekerjaan yang ia anggap sulit.
Gen Z merasa uang yang dikeluarkan untuk berbelanja mengikuti tren adalah “receh” namun kebiasaan tersebut akan menyebabkan kesulitan keuangan di masa depan. Mereka tidak akan menyadari bahwa uang yang mereka sia-siakan bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat seperti menabung, berinvestasi, atau membantu orang lain. Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk membuat skala prioritas dalam kebutuhannya dan juga tidak mudah tergiur oleh harga murah maupun racun influencer.

Raissa Nisfi Natania
Siswi Kelas IX MTs Al Jihad dan Peserta Program Riset